Hujan Yang Dahulu
Gelap menerpa, suasana membisu, petir menggelegar. Ratusan lipatan awan tak mampu membendung jutaan air. Hektaran sawah, luasan tanah menunggunya turun. Tik...tik...tik.... Tak terasa perlahan ia berjatuhan, membasahi yang kering dan kemudian menggenangi. Bersamaan denganku menjatuhkan tetesan air yang perlahan begitu deras. Ia jatuh dari lipatan awan yg tak sanggup membendungnya. Namun hal lain, aku menjatuhkannya lewat mata yang tak sanggup menutupi sebuah luka. Dulu ia menjebak aku dan kamu untuk tidak berpisah. Membiarkan kamu memperlihatkan rasa sayang yang teramat dalam hanya untukku. Mengingatkanku atas rasa cemas yang takut melandamu sedikit pun. Tak rela jika salah satu diantara kita menyentuh dinginnya air yang jatuh perlahan. Saling menjaga untuk tidak terkena jutaan air yang turun dari langit, yang tentunya sangat begitu manis. Sesekali kamu melontarkan perkataan yang begitu membuatku tersipu malu dan yakin bahwa hanya aku yang berada dihatimu saat itu. Dan tak lewa...