Terimakasih Jarak
Malam kemarin sesudah kamu singgah, aku berhasil berimajinasi lagi. Tepatnya ketika aku memandangi setiap sudut yang dapat aku lihat ketika duduk bersebelahan denganmu. Ditemani juga segelas teh manis panas beserta cemilan yang sama sekali enggan kamu colek. Lalu redupnya lampu halaman rumahku berhasil menambah nakal imajinasiku. Entah kapan rasanya aku lupa kita bisa bercerita tanpa batas seperti ini, bercanda-tawa sepuasnya tanpa halangan, saling melontarkan senyuman manja ketika sudah tidak ada percakapan yang bisa dilanjutkan, apalagi ketika aku dan kamu sudah memiliki seseorang yang mengikat, lagi-lagi kita hanya tinggal jarak. Batas pemisah antara aku dan kamu. Sejujurnya aku rindu. Ruang pembatas ini telah berhasil membuat aku menyimpan jarak. Entah apa yang aku takutkan, tapi jarak ini ialah pilihan tepat untuk menjaga kamu. Awalnya pun aku berhasil menunda jarak, tapi yang terjadi hanyalah sakit. Banyak sekali faktor yang aku cemaskan, mungkin itu yang berhasil membuat...