Posts

Terimakasih Jarak

Malam kemarin sesudah kamu singgah, aku berhasil berimajinasi lagi. Tepatnya ketika aku memandangi setiap sudut yang dapat aku lihat ketika duduk bersebelahan denganmu. Ditemani juga segelas teh manis panas beserta cemilan yang sama sekali enggan kamu colek. Lalu redupnya lampu halaman rumahku berhasil menambah nakal imajinasiku. Entah kapan rasanya aku lupa kita bisa bercerita tanpa batas seperti ini, bercanda-tawa sepuasnya tanpa halangan, saling melontarkan senyuman manja ketika sudah tidak ada percakapan yang bisa dilanjutkan, apalagi ketika aku dan kamu sudah memiliki seseorang yang mengikat, lagi-lagi kita hanya tinggal jarak. Batas pemisah antara aku dan kamu. Sejujurnya aku rindu. Ruang pembatas ini telah berhasil membuat aku menyimpan jarak. Entah apa yang aku takutkan, tapi jarak ini ialah pilihan tepat untuk menjaga kamu. Awalnya pun aku berhasil menunda jarak, tapi yang terjadi hanyalah sakit. Banyak sekali faktor yang aku cemaskan, mungkin itu yang berhasil membuat...

Saya Kembali

Lagi-lagi suara rintik hujan menarikku untuk mengingatnya. "Ya, aku sudah kembali, kembali normal menjadi aku yang sesungguhnya" ucapku. Hallo. Aku sudah kembali berdiri. Sudah kembali bisa menopang rasa sakit ini sendiri. Tidak usah khawatir. Aku pikir dahulu aku akan terus terusik dengan awan mendung tentang kamu. Ternyata, meratapi tak kunjung membuatnya cerah kembali malah semakin mendung nan menghitam. Kemudian kemunafikan berbicara, "kamu tidak akan bisa setegar ini jika kamu tidak merasakan jatuh teruyung-uyung dahulu. Berterimakasihlah" Hahahahaha. Ragu untuk mengakuinya, aku merasa bersyukur telah mencicipi pahitnya menyayangi dengan tulus lalu dicampakan. Lalu dengan begitu aku lebih mengenali mana-mana saja yang datang hanya untuk menyakiti. Aku pernah merasakan bagaimana jatuh mendalam, sakit tidak karuan. Hal nya karena aku terlalu berekspektasi lebih terhadap orang yang aku sayangi, hingga tiba saat ia memutuskan untuk pergi, aku yang rapuh....

Rindu Ini

Anggap saja ini nostalgia, tidak lebih. Aku ingat betul, awal pertama kamu datang. Mencoba mendekat, sekilas terbilang cepat. Namun berhasil, berhasil membuat aku jatuh cinta. Aku sempat heran, kita sebelumnya hanya sebatas teman. Namun akhirnya bisa melukiskan kenangan indah, walau akhirnya pahit terasa. Kini, aku sedang duduk. Memandangi foto-foto, membaca-baca lagi obrolan yang masih tersusun rapih dan kenangan yang setidaknya masih terekam baik dalam otak ini. Perkenalkan, aku ini kenangan. Kali ini aku hanya ingin bercerita sedikit. Aku rindu. Dahulu kamu yang selalu berhasil membuat aku tersenyum manja, tertawa lebar bahkan menangis sejadi-jadinya. Kini aku rindu dibuat tersenyum dengan semua rayuanmu, rindu tertawa terbahak-bahak karena celotehanmu, bahkan rindu menangis semalaman akibat kecemburuan yang melanda karenamu. Aku rindu. "Selamat pagi. Jangan lupa sarapan ya" "Kalo ngantuk kamu tidur sekarang aja, jangan tungguin aku" ...

Petang Kamu Harus Tau

He..he..he..he Selamat pagi, petang. Aku senang, kali ini petang berlalu dengan cepat. Kau tahu? Ternyata, petang yang kudapat berbeda. Petang yang kini terasa bukan petang yang semestinya kurasa. Bahagia itu bersembunyi, redup tak tersinari. Awanpun mendung. Kamu baik, petang? Petang seandainya kamu mengetahui, dibalik senja yang datang aku selalu berharap akan datang petang yang bahagia. Namun kali ini yang kurasa hanya klise. Entah mengapa kamu berbeda petang. Bulan yang terang dan bintang yang indah tidak lagi menyempurnakan kamu yang ku tunggu.  Petang aku rindu, rindu kenangan yang entah bisa kapan lagi aku ukir, ditemani sinar bintang, tentunya bersamamu. Aku rindu tawa-candamu yang biasanya aku dapat ketika aku diselimuti dinginnya petang.  Aku takut, takut salah mengartikan semua kunang-kunang yang kamu beri. Takut terlalu berekspektasi besar terhadap kunang-kunang yang bisa saja ku jaga sesaat, petang aku takut. Petang, aku hanya ingin kamu da...

Tenang, ini baru simpulan perasaanku saja.

"Yuk kita jalan, asik ada teman. Kamu jangan bohong ya" Sebenarnya itu kalimat yang biasa. Hanya saja dari kalimat yang kamu lontarkan, kita, aku terutama masuk dalam lingkaran yang sama, sepertinya. "Kamu lagi dimana? Aku lagi disini. Sini aku sendiri" Benar-benar tak terduga, keberadaan aku dan kamu selalu sama dalam beberapa waktu. Akhirnya kita bertemu dan kemudian saling bercerita tentang pribadi satu sama lain maupun hal yang bersangkutan tentang "kita". "Aku ga suka kamu ejek diri kamu sendiri. Dengan apa adanya kamu aja udah lucu" Padahal dalam nyatanya, kamu sering bahkan setiap waktu meledek aku untuk mengisi waktu canda. Tapi dibelakangnya kamu menyisipkan kalimat seperti itu yang membuat aku tahu ternyata masih ada orang yang peduli terhadap aku. "Semangat! Aku lebih suka lihat kamu semangat beraktivitas" Ternyata masih ada orang yang tidak suka melihat aku bermalas-malasan, murung dan menyendiri. Terlebih mengejut...

Ia Hanya Berteduh, Bukan Berlabuh

Hari pertama, Kayaknya kamu cape baru pulang, lagian aku suruh kamu istirahat. Pasti kamu lagi istirahat, besok juga pasti ada kabar lagi. Hari kedua, Lho ko engga ada kabar? Mungkin agak siangan, atau mungkin malam. Kamu pasti sibuk kesana-kesini. Hari ketiga, Udah 2 hari hilang, kamu kemana ya? Kalo sampe 3 hari ga ada kabar, tandanya apa? Hari keempat, Nah loh, ko kita engga sengaja bertemu? Tapi saling diam dan berpura-pura tidak memperhatikan. Hari kelima, Kita bertemu lagi tanpa sengaja, entah mengapa matamu jatuh tepat dimataku. Sembari saling tersenyum, kamu bernyanyi lagu yang mempunyai makna "galau". Heran, kamu kenapa? Ada apa? Tapi, sampai sekarang pun kamu belum beri aku kabar, hanya berpapasan saja, itupun saling cuek. Hari keenam, Aku telah memastikan bahwa kita akan bertemu. Tapi entah mengapa kita canggung, 'tak saling menyapa hanya sedikit canda dan tatapan sesaat. Rumit hari ini memang, aku risih melihat kamu dengan perem...