Posts

Showing posts from 2015

Rindu Ini

Anggap saja ini nostalgia, tidak lebih. Aku ingat betul, awal pertama kamu datang. Mencoba mendekat, sekilas terbilang cepat. Namun berhasil, berhasil membuat aku jatuh cinta. Aku sempat heran, kita sebelumnya hanya sebatas teman. Namun akhirnya bisa melukiskan kenangan indah, walau akhirnya pahit terasa. Kini, aku sedang duduk. Memandangi foto-foto, membaca-baca lagi obrolan yang masih tersusun rapih dan kenangan yang setidaknya masih terekam baik dalam otak ini. Perkenalkan, aku ini kenangan. Kali ini aku hanya ingin bercerita sedikit. Aku rindu. Dahulu kamu yang selalu berhasil membuat aku tersenyum manja, tertawa lebar bahkan menangis sejadi-jadinya. Kini aku rindu dibuat tersenyum dengan semua rayuanmu, rindu tertawa terbahak-bahak karena celotehanmu, bahkan rindu menangis semalaman akibat kecemburuan yang melanda karenamu. Aku rindu. "Selamat pagi. Jangan lupa sarapan ya" "Kalo ngantuk kamu tidur sekarang aja, jangan tungguin aku" ...

Petang Kamu Harus Tau

He..he..he..he Selamat pagi, petang. Aku senang, kali ini petang berlalu dengan cepat. Kau tahu? Ternyata, petang yang kudapat berbeda. Petang yang kini terasa bukan petang yang semestinya kurasa. Bahagia itu bersembunyi, redup tak tersinari. Awanpun mendung. Kamu baik, petang? Petang seandainya kamu mengetahui, dibalik senja yang datang aku selalu berharap akan datang petang yang bahagia. Namun kali ini yang kurasa hanya klise. Entah mengapa kamu berbeda petang. Bulan yang terang dan bintang yang indah tidak lagi menyempurnakan kamu yang ku tunggu.  Petang aku rindu, rindu kenangan yang entah bisa kapan lagi aku ukir, ditemani sinar bintang, tentunya bersamamu. Aku rindu tawa-candamu yang biasanya aku dapat ketika aku diselimuti dinginnya petang.  Aku takut, takut salah mengartikan semua kunang-kunang yang kamu beri. Takut terlalu berekspektasi besar terhadap kunang-kunang yang bisa saja ku jaga sesaat, petang aku takut. Petang, aku hanya ingin kamu da...

Tenang, ini baru simpulan perasaanku saja.

"Yuk kita jalan, asik ada teman. Kamu jangan bohong ya" Sebenarnya itu kalimat yang biasa. Hanya saja dari kalimat yang kamu lontarkan, kita, aku terutama masuk dalam lingkaran yang sama, sepertinya. "Kamu lagi dimana? Aku lagi disini. Sini aku sendiri" Benar-benar tak terduga, keberadaan aku dan kamu selalu sama dalam beberapa waktu. Akhirnya kita bertemu dan kemudian saling bercerita tentang pribadi satu sama lain maupun hal yang bersangkutan tentang "kita". "Aku ga suka kamu ejek diri kamu sendiri. Dengan apa adanya kamu aja udah lucu" Padahal dalam nyatanya, kamu sering bahkan setiap waktu meledek aku untuk mengisi waktu canda. Tapi dibelakangnya kamu menyisipkan kalimat seperti itu yang membuat aku tahu ternyata masih ada orang yang peduli terhadap aku. "Semangat! Aku lebih suka lihat kamu semangat beraktivitas" Ternyata masih ada orang yang tidak suka melihat aku bermalas-malasan, murung dan menyendiri. Terlebih mengejut...

Ia Hanya Berteduh, Bukan Berlabuh

Hari pertama, Kayaknya kamu cape baru pulang, lagian aku suruh kamu istirahat. Pasti kamu lagi istirahat, besok juga pasti ada kabar lagi. Hari kedua, Lho ko engga ada kabar? Mungkin agak siangan, atau mungkin malam. Kamu pasti sibuk kesana-kesini. Hari ketiga, Udah 2 hari hilang, kamu kemana ya? Kalo sampe 3 hari ga ada kabar, tandanya apa? Hari keempat, Nah loh, ko kita engga sengaja bertemu? Tapi saling diam dan berpura-pura tidak memperhatikan. Hari kelima, Kita bertemu lagi tanpa sengaja, entah mengapa matamu jatuh tepat dimataku. Sembari saling tersenyum, kamu bernyanyi lagu yang mempunyai makna "galau". Heran, kamu kenapa? Ada apa? Tapi, sampai sekarang pun kamu belum beri aku kabar, hanya berpapasan saja, itupun saling cuek. Hari keenam, Aku telah memastikan bahwa kita akan bertemu. Tapi entah mengapa kita canggung, 'tak saling menyapa hanya sedikit canda dan tatapan sesaat. Rumit hari ini memang, aku risih melihat kamu dengan perem...

"antara nyaman dan takut kecewa"

Hari baik yang tadi, dan rasa senang. Terimakasih. Aku suka kamu. Kau tau, itu akan selalu. -Pidi Baiq Obrolan yang tidak terduga sebelumnya membuat kita tenggelam dalam kenyamanan. Entah aku yang terlalu perasa, ataupun kamu juga. Dan aku kira, ini hanya ketidaksengajaan yang biasa. Namun nyatanya, semua ini berjalan dengan indah dan 'tak biasa. Aku selalu menahan perasaan, walaupun sesekali aku sering membiarkannya lepas begitu saja. Aku selalu menasehati hati untuk tidak terlalu cepat menilai semua tentang ini, tentang kita yang sepertinya semakin dekat. Sebenarnya aku hanya takut sakit lagi, takut jatuh lagi. Aku malas jika harus menggeluti rasa sakit. Maka 'tak banyak aku menyisipkan sebagian do'a yang aku pinta untuk sekedar memberi jalan kemana hatiku harus melangkah. Apakah tetap mempertahankan kita yang semakin dekat ini? Ataukah berhenti untuk tidak mengikuti arah kedekatan ini. Pikiranku sepakat untuk menyerahkan semuanya pada waktu. Hatiku pun begit...

Kesendirianku

Tepat satu tahun ini aku menjalani hari-hariku sendiri, tanpa dia yang sering disebut ‘kekasih’. Sedih? Selama aku masih memiliki keluarga, teman dan juga sahabat yang menemani mengapa harus bersedih. Bosan? Tentu tidak, aku memiliki banyak aktivitas menarik yang selama ini aku jalani. Sepi? Mungkin sebagian, aku hanya perlu beradaptasi sebelum semuanya kembali normal seperti semula. Tuhan sudah berikan waktu untuk aku sendiri. Menata semuanya dengan rapi, membuang yang buruk dan memilah yang baik. Sepertinya aku sudah cukup terlarut dalam kesedihan yang terus membelenggu selama ini. Bukan hanya tentang perasaan yang menjadi-jadi. Tapi tentang semua yang telah aku buang sia-sia. Kini aku masih bisa berdiri tanpa ada yang menopangnya. Melukis tawa tanpa ada yang mendukungnya. Bahagia tanpa ada yang menciptakannya. Tentu kehilangan yang lalu mengajarkanku lebih dari banyak hal. Walau terkadang rasa sakit itu sesekali sering menghampiriku lagi. Sendiri itu bukan berarti menye...

Malam

Malam, biarkan dia larut bersama dinginmu, bersama dengan semua harapanku. Biarkan semua lenyap perlahan. Malam, izinkan dia pergi beriringan dengan arahmu, dengan semua cerita singkatku. Biarkan semua hilang perlahan. Malam, beritahu dia tentang malam ini, malam yang begitu amat sangat pelik aku hadapi. Biarkan semua ini dia tahu perlahan. Malam, dengarkanlah isi hatiku saat ini. Seandainya boleh, izinkanlah aku untuk melepas namanya dari pikiranku. Aku ‘tak berhak atas semua ini, semua hayalku teralu pelik tentangnya. Bantu aku beritahu semua tentang kenyataan ini terhadap otak dan hatiku. Mengapa mereka selalu menolak ketika aku meyakinkan bahwa dia sama sekali tidak memperdulikanku, terlebih otak dan hatiku semakin mengandai-andai. Perbolehkanlah dia mengetahui tentang hancurnya semua harapku bersamanya. Agar dia mengerti artinya menghargai. Mengapa perasaan ini enggan pergi? Sekalinya otak dan hati ini tahu bahwa ada banyak orang yang lebih dia perdulikan. Mengapa...

Bolehkah?

Malam minggu, ketika kebanyakan kaum remaja seusiaku sibuk mempersiapkan schedule satnight bersama kekasih dan sibuk memikirkan: Mau pake baju apa? Jalan kemana? Mau ngobrolin apa? Caption terbaik apa? Gaya selfie seperti apa lagi ?Dan lainnya. Ha..ha..ha..ha... Dibalik itu semua, aku hanya asyik sendiri bersama gadget, laptop, dan secangkir teh hangat. Entah mengapa, setelah lama aku sendiri aku merindukan sesosok kekasih yang biasanya singgah dalam setiap detik perjalanan hidup. Sebenarnya aku lupa akan hal itu, namun entah mengapa aku amat sangat merindukan hal itu ketika aku, mataku, pikiranku, hatiku, dan perasaanku melihat serta merasakan sesuatu yang janggal yang terasa hingga detik ini. Jujur, aku mudah menyayangi seseorang, namun tidak gampang untuk mencintai seseorang dengan cepat. Memang aku tidak paham betul mengenai perbedaan sayang dan cinta . Tapi menurut pendapatku, sayang itu hanya perasaan yang amat sangat tulus yang setiap manusia...