"antara nyaman dan takut kecewa"

Hari baik yang tadi,
dan rasa senang.
Terimakasih.
Aku suka kamu.
Kau tau,
itu akan selalu. -Pidi Baiq

Obrolan yang tidak terduga sebelumnya membuat kita tenggelam dalam kenyamanan. Entah aku yang terlalu perasa, ataupun kamu juga. Dan aku kira, ini hanya ketidaksengajaan yang biasa. Namun nyatanya, semua ini berjalan dengan indah dan 'tak biasa.

Aku selalu menahan perasaan, walaupun sesekali aku sering membiarkannya lepas begitu saja. Aku selalu menasehati hati untuk tidak terlalu cepat menilai semua tentang ini, tentang kita yang sepertinya semakin dekat.

Sebenarnya aku hanya takut sakit lagi, takut jatuh lagi. Aku malas jika harus menggeluti rasa sakit. Maka 'tak banyak aku menyisipkan sebagian do'a yang aku pinta untuk sekedar memberi jalan kemana hatiku harus melangkah. Apakah tetap mempertahankan kita yang semakin dekat ini? Ataukah berhenti untuk tidak mengikuti arah kedekatan ini.

Pikiranku sepakat untuk menyerahkan semuanya pada waktu. Hatiku pun begitu, rela menunggu sampai akhirnya dimana kita ini akan melepas semuanya. Apa dengan suatu ikatan pasti? Atau dengan air mata yang aku tuangkan? Kita lihat saja.

Kenyamanan ini terus membelenggu, membuat aku bisu dan buta akan semua tentang kamu. Aku selalu menasehati diriku bahwa semua ini hanya hiburan semata. Mencairkan hatinya yang beku, kemudian ia akan pergi. Namun terus otakku membantah, seolah-olah kamu benar menyimpan rasa padaku.

Hari pertama kamu didekatku, halnya biasa. Hari kedua kamu didekatku, halnya mulai timbul. Hari ketiga kamu didekatku, halnya mulai yakin. Hari keempat kamu didekatku, halnya sangat yakin. Namun entah mengapa, hari-hari berikutnya aku merasakan janggal. Sikap dan caramu berbicara mulai berbeda, singkat dan lebih seperti menahan. Apa mungkin aku yang terlalu perasa? Tapi perubahan itu benar aku rasakan.

Ketakutanku semakin menyelimuti. Aku sangat takut jika selama ini aku hanya salah mengartikan segala gerak-gerikmu, ucapanmu, ajakanmu, bahkan ceritamu ataupun caramu memandang aku. Jika benar aku salah, aku hanya perlu meminta maaf pada hati dan pikiranku karena telalu meyakinkannya dalam-dalam, hingga berharap terlalu dalam pula.

Selagi semuanya belum terjadi, aku hanya perlu menahan hati untuk tidak mengartikan lebih dari apa yang kamu tunjukkan. Dan pikiran yang harus aku jaga hingga berhenti berfikir bahwa kamu akan selalu baik hingga kedepan nantinya. Aku harus menahan dan menjaganya dengan sangat baik.

Aku bisa membaca semuanya. Jika nanti, sesakitnya kecewa itu adalah hasil akhir yang terjadi dari kedekatan kita ini. Aku yang akan merasakan kecewa itu lebih dalam, mungkin kamu tidak, bukan begitu?

Aku selalu berdoa,
berharap kamu mau,
denganku.
Kukira,
Tuhan lebih kuasa,
dari pada kau! -Pidi Baiq ( 1972 - 2098 )

Comments

Popular posts from this blog

Malam

Saya Kembali

Petang Kamu Harus Tau