Kesendirianku

Tepat satu tahun ini aku menjalani hari-hariku sendiri, tanpa dia yang sering disebut ‘kekasih’. Sedih? Selama aku masih memiliki keluarga, teman dan juga sahabat yang menemani mengapa harus bersedih. Bosan? Tentu tidak, aku memiliki banyak aktivitas menarik yang selama ini aku jalani. Sepi? Mungkin sebagian, aku hanya perlu beradaptasi sebelum semuanya kembali normal seperti semula.

Tuhan sudah berikan waktu untuk aku sendiri. Menata semuanya dengan rapi, membuang yang buruk dan memilah yang baik. Sepertinya aku sudah cukup terlarut dalam kesedihan yang terus membelenggu selama ini. Bukan hanya tentang perasaan yang menjadi-jadi. Tapi tentang semua yang telah aku buang sia-sia.

Kini aku masih bisa berdiri tanpa ada yang menopangnya. Melukis tawa tanpa ada yang mendukungnya. Bahagia tanpa ada yang menciptakannya. Tentu kehilangan yang lalu mengajarkanku lebih dari banyak hal. Walau terkadang rasa sakit itu sesekali sering menghampiriku lagi.

Sendiri itu bukan berarti menyesal. Tetapi mempersiapkan hati yang lebih kuat lagi. Bukan berarti ‘tak mau memulai. Apapun yang telah hancur tentunya harus diperbaiki dahulu sebelum akhirnya digunakan kembali. Begitu pula dengan hati, perlu beristirahat untuk memulihkan goresan yang masih saja enggan pulih dari sakitnya, sebelum ia digunakan kembali tetapi bukan untuk disakiti, melainkan untuk dijaga.

Malas? Mungkin itu lebih tepat. Rasanya kesendirian ini telah membuat aku nyaman. Sehingga untuk membuka hati lagi aku malas. Malas melihat topeng, malas mendengar kebohongan, malas dengan omong kosong dan malas dengan semua yang menyakitkan nantinya. 

Dahulu aku terlalu sering berkorban, sehingga aku sering terluka. Aku bosan jika nantinya aku yang harus memulai dengan berkorban, tentu aku akan tahu jawabannya adalah terluka. Aku lebih baik sendiri, diam dan menunggu. Meskipun aku ‘tak bisa dusta bahwa aku sangat merindukan ini.

Rindu akan diperlakukan selayaknya putri-putri dongeng. Diperhatikan lebih, dijaga dengan baik, diutamakan dan tentunya selalu dicari. Mungkin sekarang aku lupa untuk diperlakukan seperti itu, aku lupa semuanya. Tapi mengapa tidak lupa dengan sakitnya. Beruntung sakit ini tidak terus-menerus mengusik kesendirianku.

Cibiran orang, ejekan teman dan semua orang disekelilingku menganggap aku salah seorang yang masih larut dalam masa lalu. Larut dalam kesedihan yang ‘tak kunjung reda. Salah, mereka salah. Aku yang lebih paham diriku sendiri, aku begini bukan aku larut dalam kesedihan, aku begini bukan aku meminta pertolongan, dan aku begini bukan atas rasa sakit yang ‘tak kunjung sembuh. Aku seperti ini karena kemauan diriku sendiri.

Untuk kesendirianku ini biarkan aku yang mengatur. Tuhan lebih mengetahui yang terbaik untuk hati dan diriku selanjutnya. Ini baru satu tahun aku sendiri, mungkin tahun depan, bulan depan, minggu depan ataupun besok aku sudah siap untuk membuka hati lagi.

Terimakasih,
Satu tahun lalu.

Comments

Popular posts from this blog

Malam

Saya Kembali

Petang Kamu Harus Tau