Petang Kamu Harus Tau
He..he..he..he
Selamat pagi, petang.
Aku senang, kali ini petang berlalu dengan cepat.
Kau tahu?
Di pagi menuju siang ini.
Aku akan menunggu dengan bisu.
Aku minta maaf sekali lagi.
Aku mundur.
He...he...he...
Selamat pagi, petang.
Aku senang, kali ini petang berlalu dengan cepat.
Kau tahu?
Ternyata, petang yang kudapat berbeda. Petang yang kini terasa bukan petang yang semestinya kurasa. Bahagia itu bersembunyi, redup tak tersinari. Awanpun mendung. Kamu baik, petang?
Petang seandainya kamu mengetahui, dibalik senja yang datang aku selalu berharap akan datang petang yang bahagia. Namun kali ini yang kurasa hanya klise. Entah mengapa kamu berbeda petang. Bulan yang terang dan bintang yang indah tidak lagi menyempurnakan kamu yang ku tunggu.
Petang aku rindu, rindu kenangan yang entah bisa kapan lagi aku ukir, ditemani sinar bintang, tentunya bersamamu. Aku rindu tawa-candamu yang biasanya aku dapat ketika aku diselimuti dinginnya petang.
Aku takut, takut salah mengartikan semua kunang-kunang yang kamu beri. Takut terlalu berekspektasi besar terhadap kunang-kunang yang bisa saja ku jaga sesaat, petang aku takut.
Petang, aku hanya ingin kamu datang lagi dengan waktu yang sama, walau tak bisa sama, percis saja, setidaknya. Aku hanya ingin mengutarakan yang sebenarnya. Mengungkapkan kejujuran tentang yang kurasa. Petang, izinkanlah.
Kurasa sudah cukup aku bertahan, menunggu, menantikanmu bagaikan omong kosong. Sepertinya aku harus menutup mata, lalu berlari, agar tak pernah lagi ku lihat dan ku ingat petang-petang yang kamu buat indah, mungkin tidak semestinya, itu hanya mungkin.
Disini, dengan sangat hormat. Terimalah permintaan maafku untukmu petang. Maaf telah mengartikanmu dengan arti diriku sendiri. Telah membuat aku, diriku sendiri, menunggu hal-hal yang mungkin tidak akan pernah kamu lakukan. Maafkan aku yang sudah menyimpulkan dirimu sepenuhnya untukku, atas semuanya, aku minta maaf.
Di pagi menuju siang ini.
Aku akan menunggu dengan bisu.
Aku minta maaf sekali lagi.
Aku mundur.
He...he...he...
Dicatat dengan suasana hati bimbang.
Petang, jujur saja. Aku nunggu kamu.
Tapi, aku harus mundur, karena aku sadar diri.
Nanti aku sakit.
Aku bukan yang kamu mau, mungkin.
Petang.
Kamu harus tau!
Comments
Post a Comment