Tenang, ini baru simpulan perasaanku saja.

"Yuk kita jalan, asik ada teman. Kamu jangan bohong ya"
Sebenarnya itu kalimat yang biasa. Hanya saja dari kalimat yang kamu lontarkan, kita, aku terutama masuk dalam lingkaran yang sama, sepertinya.

"Kamu lagi dimana? Aku lagi disini. Sini aku sendiri"
Benar-benar tak terduga, keberadaan aku dan kamu selalu sama dalam beberapa waktu. Akhirnya kita bertemu dan kemudian saling bercerita tentang pribadi satu sama lain maupun hal yang bersangkutan tentang "kita".

"Aku ga suka kamu ejek diri kamu sendiri. Dengan apa adanya kamu aja udah lucu"
Padahal dalam nyatanya, kamu sering bahkan setiap waktu meledek aku untuk mengisi waktu canda. Tapi dibelakangnya kamu menyisipkan kalimat seperti itu yang membuat aku tahu ternyata masih ada orang yang peduli terhadap aku.

"Semangat! Aku lebih suka lihat kamu semangat beraktivitas"
Ternyata masih ada orang yang tidak suka melihat aku bermalas-malasan, murung dan menyendiri. Terlebih mengejutkan ketika orang yang kumaksud itu kamu.

"Belajar ikhlas dan buat orang lain bahagia"
Sebenarnya dari sekian banyak quotes yang kamu sisipkan lewat pesan ataupun secara langsung, kalimat diatas mungkin yang mewakilinya. Entah mengapa dan kenapa, kamu menjadi salah satu alasan aku semangat dalam beberapa hari ini, heran.

"Kamukan punya janji sama aku. Ko lupa? Males ah"
Aku kira janji-janji itu tidak pernah kamu ingat. Aku beranggapan bahwa pembicaraan kita itu hanya omong kosong belaka, ternyata kamu menganggapnya tidak.

"Izin sama ayah ibu mau pergi sama aku. Jangan bohong sama mereka, kalau bohong aku gamau pergi"
Unik, aku baru menemukan orang seperti kamu. Yang secara langsung atau tidak langsung mengajarkan aku untuk selalu jujur terhadap orang tua atau siapapun walau aku dan kamu belum melangkah sejauh matahari.

Tanpa sengaja kita hilang komunikasi. Tidak saling bertukar pesan, saat berjumpa pun hanya kalimat-kalimat yang tidak berhubungan dengan "kita" yang kamu bicarakan. Lemahnya lagi, aku tidak punya nyali untuk menanyakan mengapa kamu pergi tanpa pamit?

Akhirnya, aku mencoba untuk keluar dari lingkaran yang kusebut kita itu, namun ternyata kamu datang seolah menahan aku untuk tetap berada pada lingkaran kita ini sembari membawa secercah senyum cerah untukku, nanti.

"Ayo semangat jangan ngeluh terus sebentar lagi beres"
Lho ko? Aku kira berakhir semua cerita ketika kamu menghilang dan pertemuan kita tak lagi istimewa. Namun nyatanya kamu datang lagi dan membuat aku bertanya, pertanda apa ini?

"Aku lagi ga pegang handphone beberapa hari ini"
Kaget, kenapa harus kamu beritahu aku akan hal itu? Seperti isyarat yang redup bahwa selama kamu hilang itu adalah alasannya. Bodohnya aku percaya begitu saja dan membiarkan lingakaran itu menjerat hati dan pikiranku lagi.

"Aku cape, kamu istirahat ya"
Lama tidak ada kabar, walaupun dalam seminggu kita selalu bertemu satu atau dua kali rasanya tetap berbeda. Namun, kamu tetap dengan rasa yang sama. Masih bisa membuat seolah aku untukmu seperti yang bisa kuharapkan.

"Aku ga suka kalo kamu nilai orang dari sisi buruknya aja. Nanti kamu ga punya temen"
Aku ga pernah tau kamu utusan darimana, tapi kenapa kamu selalu berhasil menasehatiku? Bahkan hingga berhasil membuat aku nurut akan nasehat-nasehat yang kamu beri? Kamu berhasil!

"Untuk semuanya, aku ga mau kamu ganti pake barang yang sama, bahkan pake uang. Aku cuman pengen kamu aktif dan meneruskan semangatku"
Terpanah lagi, kamu seperti buta untuk melihat bahwa aku sangat terpikat dengan segala yang telah kamu beri dan kamu ucapkan. Bahkan kamu bisu untuk mengatakan apa-apa saja yang kamu akan perjuangkan padaku.

"Kamu tidur, besok sekolahnya telat lagi"
Aku merasa diperhatikan lebih, jujur saja. Mungkin entah dengan cueknya kamu. Tapi saat kamu memberi kabar atau sekedar melontarkan ucapan tentang aku, aku merasa diperhatikan lebih olehmu. Ya tidak?

"Jujur, aku seneng. Makasih banyak ya!"
Aku baca berulang, tapi tetap aku tidak dapat memahami maksudnya. Ada apa ini?

***

Ternyata, setelah kalimat "makasih banyak" aku hanya bisa menunggu kabar yang entah kapan kudapati. Menunggu tegur-sapa yang mungkin sulit terjadi. Dan setelahnya, pertemuan kita tidak lagi seistimewa dahulu. Pesan kita tidak sesuka dahulu. Kita mungkin berbeda saat ini, mungkin akunya, apa mungkin kamunya?

Iya ini pendapatku, kamu berhasil membuat aku jatuh cinta. Bukan jatuh untuk sakit, tapi untuk bahagia. Kamu dapat membuat aku percaya bahwa dunia ini telah adil dapat mengirim kamu untuk aku. Kamu pantas aku puji karena telah dapat membuat aku bahagia mungkin tersanjung.

Namun bolehkah aku berpendapat lain? Kamu adalah laki-laki yang cuek. Yang kurang memahami mana-mana saja yang harus diperjuangkan. Bukannya aku mau mengatakan bahwa aku pantas untuk diperjuangkan, setidaknya, aku cukup layak, mungkin tidak, tapi tidak apa-apa.

Aku akui, aku mungkin salah seorang yang beruntung dapat masuk dalam duniamu, walaupun hanya sesaat, tak apa. Kini hanya pertemuan yang tidak terduga yang mungkin masih bisa istimewa. Pertemuan tanpa kita atur, dan pertemuan yang tanpa kita sadari telah menelan kita, aku terutama untuk jatuh cinta. Pembicaraan pun kini sudah biasa dan pesan yang timbul hanya sekedar sempat bukan lagi tempat.

Ini pendapatku:
Kamu laki-laki pecicilan. Baik, tapi kurangnya, kamu baik hampir ke setiap perempuan, mungkin iya, aku contohnya. Kamu belum bisa membaca kondisi, dimana kamu sedang diperhatikan lebih oleh salah seorang, ya aku, kamu tidak paham? Aku bisa bilang kamu laki-laki romantis, mengapa tidak? Kamu berhasil membuat aku terpikat dengan cara-cara konyolnya kamu, dan itu membuat aku bahagia hingga terpikat mungkin sangat jauh. Selebihnya, kamu berhasil! Namun sayang, kamu juga berhasil membuat aku jatuh, bukan jatuh cinta lagi, tapi jatuh dalam jurang ketidakpastian. Terima kasih.

Harapku, kamu bisa membacanya.

Comments

Popular posts from this blog

Malam

Saya Kembali

Petang Kamu Harus Tau