Ia Hanya Berteduh, Bukan Berlabuh
Hari pertama,
Kayaknya kamu cape baru pulang, lagian aku suruh kamu istirahat. Pasti kamu lagi istirahat, besok juga pasti ada kabar lagi.
Hari kedua,
Lho ko engga ada kabar? Mungkin agak siangan, atau mungkin malam. Kamu pasti sibuk kesana-kesini.
Hari ketiga,
Udah 2 hari hilang, kamu kemana ya? Kalo sampe 3 hari ga ada kabar, tandanya apa?
Hari keempat,
Nah loh, ko kita engga sengaja bertemu? Tapi saling diam dan berpura-pura tidak memperhatikan.
Hari kelima,
Kita bertemu lagi tanpa sengaja, entah mengapa matamu jatuh tepat dimataku. Sembari saling tersenyum, kamu bernyanyi lagu yang mempunyai makna "galau". Heran, kamu kenapa? Ada apa? Tapi, sampai sekarang pun kamu belum beri aku kabar, hanya berpapasan saja, itupun saling cuek.
Hari keenam,
Aku telah memastikan bahwa kita akan bertemu. Tapi entah mengapa kita canggung, 'tak saling menyapa hanya sedikit canda dan tatapan sesaat. Rumit hari ini memang, aku risih melihat kamu dengan perempuan lain, gerak-gerikmu pun seperti melarang aku untuk bercanda ataupun dekat dengan laki-laki lain. Aku tahu, ini hanya kesimpulan perasaanku sendiri. Tapi mengapa malam ini kamu beri aku kabar? Walaupun didalamnya hanya berisikan basa-basi konyol?
Hari ketujuh,
Aku coba menunggu kamu dengan sabar dan sesekali jenuh. Akhirnya kamu datang juga. Dengan senyumnya kamu yang seperti biasa ke setiap orang, tentunya senyum padaku juga. Yang 'tak terduga, kamu dan aku bisa sedekat ini, entah sengajanya kamu atau spontanitasnya kamu. Aku senang, tapi entah mengapa ada yang janggal dan membuat aku muak atas sikap orang yang tidak pernah aku mengerti mengapa selalu mengusik kehidupanku, bahkan kehidupanmu, mungkin, saat ini. Tidak bosannya ia selalu mengganggu hidup aku tanpa ia sadari, sepertinya. Aku mencoba menahan semua kemuakan ini dan sampai akhirnya aku yang memilih pergi dan membiarkan ia bersama kamu. Aku kira kabarmu semalam kemarin akan memberikan aku petunjuk untuk kedepannya, ternyata? Hari ini pun kamu malah memberi luka dengan kabar yang kamu tunjukkan padaku. Aku memiliki angan yang besar padamu, jadi, membaca kabar seperti itu aku sedih. Aku hanya takut kamu pergi, apa kamu peduli?
Hari kedelapan,
Aku sudah hancur hari ini, merasa tersisihkan hanya karena kabar dan cerita yang kamu ceritakan tadi malam. Semua yang aku bangun apa harus sia-sia saja? Aku bertahan. Ternyata tidak diduga kita bertemu hanya dengan hitungan menit, saling menatap dengan suatu getaran dihati, mengapa harus seperti ini? Malam ini tidak disangka kamu beri aku kabar baik, walaupun sekejap dan aku tidak tahu dibelakangnya apa kamu hanya menghubungiku atau menghubungi yang lain. Aku niatkan saja dalam hati, semoga semua akan baik-baik saja hingga waktunya tiba.
Hari kesembilan,
Bukan tentang aku yang lelah, aku yang terus berkorban sepertinya. Sebetulnya perasaan ini hampir menyerah, namun pikiran dan hati ini terus melawan. Sehingga untuk berhenti aku tidak bisa, semuanya terus berjalan dan memikirkan angan yang sepertinya agak sulit tergapai. Seperti halnya hari ini, aku hanya bisa melamun menunggu kabar itu muncul dari kamu, ya tentu. Hingga larut malam yang terlintas hanyalah angan semu. Pikiran dan hati ini mulai jera, menanyakan apakah semua akan berakhir indah? Apa dengan air mata?
Hari kesepuluh,
Hari terakhir, mungkin. Tidak ada kabar dan tidak saling bertemu. Aku memang menunggu sembari memikirkan, mungkin kamu tidak, ya aku tahu. Sampai malam tiba pun, hanya angin yang aku miliki. Apa harus saja aku akhiri ini? Kurasa percuma menunggu jika nanti akhirnya aku yang kecewa, bukan begitu? Hey kamu!
Sepertinya sudah cukup aku mengamati. Semuanya labil tak menentu. Jika aku dan kamu ingin memiliki, mengapa harus ada lalu hilang, ada lalu hilang dan terus begitu? Atau mungkin lagi-lagi aku salah mengamati segala gerak-gerikmu? Omonganmu? Perbuatanmu? Bahkan sikapmu padaku? Jika benar, jangan salahkan sepenuhnya padaku. Aku begini karena ulahmu juga, membuat aku merasa untukmu, lalu pergi seolah-olah aku bukan untukmu, kemudian datang lagi seperti membuktikan bahwa aku untukmu. Memang ini salahku juga, terlalu menyimpulkan kamu pada hati bukan pada angin.
Lagi-lagi aku terjebak pada perasaan yang enggan pergi dan terus mengandai-andai. Walaupun kecewanya adalah akhir, otak ini enggan untuk berhayal tentang kamu, entah mengapa. Perasaan inipun begitu, selalu kompak seperti berkompromi pada otak bahwa akan selalu menyimpan kamu, yang sepertinya kamu tidak demikian.
Seandainya kamu hanya ingin berteduh, jangan seperti ini. Membiarkan aku terbang melayang ke angkasa lalu kamu jatuhkan seketika. Jika kamu hanya ingin berlabuh sesaat, beritahu aku penjelasan yang baik sehingga aku mengerti. Dan jika kamu ingin bukan cuman hanya berlabuh, tolong katakan, aku menunggunya, kamu tahu?
Aku janji hanya akan menyimpan ini, sampai aku dan kamu tahu akan kemana kita akhirnya.
Setelah hasil akhir aku dan kamu dapati, terserahlah.
Entah aku akan ceritakan ini pada angin agar cepat pergi atau pada bibit tanaman yang akan menyimpannya hingga dewasa bahkan mati nanti.
Comments
Post a Comment