Terimakasih Jarak
Malam kemarin sesudah kamu singgah, aku berhasil berimajinasi lagi. Tepatnya ketika aku memandangi setiap sudut yang dapat aku lihat ketika duduk bersebelahan denganmu. Ditemani juga segelas teh manis panas beserta cemilan yang sama sekali enggan kamu colek. Lalu redupnya lampu halaman rumahku berhasil menambah nakal imajinasiku.
Entah kapan rasanya aku lupa kita bisa bercerita tanpa batas seperti ini, bercanda-tawa sepuasnya tanpa halangan, saling melontarkan senyuman manja ketika sudah tidak ada percakapan yang bisa dilanjutkan, apalagi ketika aku dan kamu sudah memiliki seseorang yang mengikat, lagi-lagi kita hanya tinggal jarak. Batas pemisah antara aku dan kamu.
Sejujurnya aku rindu. Ruang pembatas ini telah berhasil membuat aku menyimpan jarak. Entah apa yang aku takutkan, tapi jarak ini ialah pilihan tepat untuk menjaga kamu. Awalnya pun aku berhasil menunda jarak, tapi yang terjadi hanyalah sakit. Banyak sekali faktor yang aku cemaskan, mungkin itu yang berhasil membuat dekat menjadi sakit.
Uniknya, Tuhan selalu memberi alur yang indah. Lama tak bersua nyatanya kita lagi sama-sama mendekap angan karena saling berucap pun tak lantas membuat rindu memudar, angan memuai. Maka dari sinilah jarak terukir. Lambat laun aku yang memilih diam hanya sibuk memperhatikan, menunggu waktu yang tepat untuk bertanya "apa jarak ini perlu ada?"
"sabarlah, kita emang harus sabar sama hubungan kita masing-masing" katanya.
Entah maksudnya apa, tapi yang aku tangkap ialah kamu menyimpan aku dengan cara seperti ini. Aku dengan pilihanku dan kamu dengan pilihanmu.
Sempat ingin melontarkan kalimat "lalu mengapa tidak kamu dengan aku saja? kalau akhirnya jalan kita menuntut untuk sama-sama sabar bahkan bermunafik menutupi sepi hingga sakit". Namun aku tak lantas berpikir seperti anak-anak yang hanya mengandalkan emosi saat bertindak. Lalu aku berpikir dewasa yang memutuskan bahwa kalimat itu tidak semestinya ada, bahkan hingga aku lontarkan saja itu tidak perlu.
Aku tidak yakin sekarang, entah mengapa. Aku pikir semua sikapmu padaku dan semua sikapku padamu ini hanyalah angin kesepian. Sepi yang kita bawa bersama hingga mengartikan arti lain dimata orang. Namun bagi kita masing-masing, ini adalah hujan sesaat setelah kemarau berkepanjangan.
Dugaanku, akhir dari semua alur ini ialah aku dan kamu akan menjadi kita. Tapi ternyata dugaan ini salah, sepertinya kita tidak akan pernah menjadi kita, tapi entah kedepannya bagaimana itu rencana Tuhan. Namun yang aku yakini sekarang hanyalah "aku dan kamu tidak akan sejauh matahari tapi tidak juga sedekat nadi".
Jadi begini...
Seusai paragraf ini berakhir, aku hanya ingin meminta maaf kepada semua yang terlibat dalam semua alur yang tidak pernah aku duga akan menyinggung bahkan menyakiti beberapa pihak, terlebih dia yang tulus mendekapku. Akan aku jaga jarak ini hingga tidak ada yang sakit menyakiti lagi. Sekali lagi aku minta maaf.
Comments
Post a Comment