Hujan Yang Dahulu
Gelap menerpa, suasana membisu, petir menggelegar. Ratusan lipatan awan tak mampu membendung jutaan air. Hektaran sawah, luasan tanah menunggunya turun.
Tik...tik...tik....
Tak terasa perlahan ia berjatuhan, membasahi yang kering dan kemudian menggenangi. Bersamaan denganku menjatuhkan tetesan air yang perlahan begitu deras. Ia jatuh dari lipatan awan yg tak sanggup membendungnya. Namun hal lain, aku menjatuhkannya lewat mata yang tak sanggup menutupi sebuah luka.
Dulu ia menjebak aku dan kamu untuk tidak berpisah. Membiarkan kamu memperlihatkan rasa sayang yang teramat dalam hanya untukku. Mengingatkanku atas rasa cemas yang takut melandamu sedikit pun. Tak rela jika salah satu diantara kita menyentuh dinginnya air yang jatuh perlahan. Saling menjaga untuk tidak terkena jutaan air yang turun dari langit, yang tentunya sangat begitu manis.
Sesekali kamu melontarkan perkataan yang begitu membuatku tersipu malu dan yakin bahwa hanya aku yang berada dihatimu saat itu. Dan tak lewat kamu menyisipkan sebuah canda yang berhasil membuatku tertawa lebar bahagia. Satu dua kali kamu menggerakan tangan ke arah dahi sambil mengusap air yg membasahi wajahku. Aku salut, kamu salah satu lelaki yang menghargai perempuannya. Tak berani menodaiku sedikitpun, karena semua yang kamu lakukan berlandaskan cinta dan kasih sayang. Mustahil bila noda itu melunturkan cinta dan kasih sayang yang suci kala itu.
Air yang turun semakin banyak dan semakin deras. Membuatku semakin tak bisa berkutik berdiri disamping kamu yang menemaniku disebuah kios ramai dipadati beberapa orang yang sedang menjaga badannya agar tak terkena air yang meluncur begitu deras dari langit. Dulu do'aku ingin hujan reda agar aku dan kamu bisa pulang tanpa terkena basahan air setetespun. Namun kali ini do'aku berbeda, aku ingin hujan tetap terus turun dari langit langit tanpa henti. Agar aku dan kamu tetap bersama-sama dengan rasa sayang dan cinta yang teramat besar satu sama lain. Sebab saat ini yang aku rasakan hanya sakit dan sakit bila mengenangnya namun teramat sangat sulit untuk melupakannya karena begitu sangat manis semuanya.
Kali ini hujan turun berbeda, tanpa ada kata spesial aku lalui begitu saja. Entah yang kamu rasakan apa saat ini? Apakah mengenang semua kenangan indah bersamaku? Apa melupakan semua kenangan itu bersama perempuan lain? Aku tidak tahu. Ibaratnya begini, luka tak akan sembuh dalam jangka waktu yang pendek, sekalinya sembuh dalam jangka waktu pendek pula luka itu akan menimbulkan bekas dan mungkin masih terasa sakitnya sesekali. Kamu bisa mengerti betapa sangat apiknya hati dan otakku menyimpan memori ini bersamamu. Lantas mengapa begitu sangat kejam kamu menggoreskan luka yang sangat pedih ini?
Tak apa, tak akan aku sesali semua ini. Untuk apa menyesalinya, semua ini bukan untuk disesali. Justru aku berterimakasih pada hujan kali ini, mengingatkanku akan kejadian yang telah usai bersamamu. Dan hujan yang dahulu memberikanku suatu arti bahwa tidak ada yang abadi, semua akan lenyap dan pergi sesuai kehendak-Nya. Tak boleh memaksa semua ada jalannya. Ikhlaskan daripada terasa sakit. Biarkan, semua akan terjadi lebih indah dari sebelumnya, percaya.
Tik...tik...tik....
Tak terasa perlahan ia berjatuhan, membasahi yang kering dan kemudian menggenangi. Bersamaan denganku menjatuhkan tetesan air yang perlahan begitu deras. Ia jatuh dari lipatan awan yg tak sanggup membendungnya. Namun hal lain, aku menjatuhkannya lewat mata yang tak sanggup menutupi sebuah luka.
Dulu ia menjebak aku dan kamu untuk tidak berpisah. Membiarkan kamu memperlihatkan rasa sayang yang teramat dalam hanya untukku. Mengingatkanku atas rasa cemas yang takut melandamu sedikit pun. Tak rela jika salah satu diantara kita menyentuh dinginnya air yang jatuh perlahan. Saling menjaga untuk tidak terkena jutaan air yang turun dari langit, yang tentunya sangat begitu manis.
Sesekali kamu melontarkan perkataan yang begitu membuatku tersipu malu dan yakin bahwa hanya aku yang berada dihatimu saat itu. Dan tak lewat kamu menyisipkan sebuah canda yang berhasil membuatku tertawa lebar bahagia. Satu dua kali kamu menggerakan tangan ke arah dahi sambil mengusap air yg membasahi wajahku. Aku salut, kamu salah satu lelaki yang menghargai perempuannya. Tak berani menodaiku sedikitpun, karena semua yang kamu lakukan berlandaskan cinta dan kasih sayang. Mustahil bila noda itu melunturkan cinta dan kasih sayang yang suci kala itu.
Air yang turun semakin banyak dan semakin deras. Membuatku semakin tak bisa berkutik berdiri disamping kamu yang menemaniku disebuah kios ramai dipadati beberapa orang yang sedang menjaga badannya agar tak terkena air yang meluncur begitu deras dari langit. Dulu do'aku ingin hujan reda agar aku dan kamu bisa pulang tanpa terkena basahan air setetespun. Namun kali ini do'aku berbeda, aku ingin hujan tetap terus turun dari langit langit tanpa henti. Agar aku dan kamu tetap bersama-sama dengan rasa sayang dan cinta yang teramat besar satu sama lain. Sebab saat ini yang aku rasakan hanya sakit dan sakit bila mengenangnya namun teramat sangat sulit untuk melupakannya karena begitu sangat manis semuanya.
Kali ini hujan turun berbeda, tanpa ada kata spesial aku lalui begitu saja. Entah yang kamu rasakan apa saat ini? Apakah mengenang semua kenangan indah bersamaku? Apa melupakan semua kenangan itu bersama perempuan lain? Aku tidak tahu. Ibaratnya begini, luka tak akan sembuh dalam jangka waktu yang pendek, sekalinya sembuh dalam jangka waktu pendek pula luka itu akan menimbulkan bekas dan mungkin masih terasa sakitnya sesekali. Kamu bisa mengerti betapa sangat apiknya hati dan otakku menyimpan memori ini bersamamu. Lantas mengapa begitu sangat kejam kamu menggoreskan luka yang sangat pedih ini?
Tak apa, tak akan aku sesali semua ini. Untuk apa menyesalinya, semua ini bukan untuk disesali. Justru aku berterimakasih pada hujan kali ini, mengingatkanku akan kejadian yang telah usai bersamamu. Dan hujan yang dahulu memberikanku suatu arti bahwa tidak ada yang abadi, semua akan lenyap dan pergi sesuai kehendak-Nya. Tak boleh memaksa semua ada jalannya. Ikhlaskan daripada terasa sakit. Biarkan, semua akan terjadi lebih indah dari sebelumnya, percaya.
Comments
Post a Comment