Pikirkan Sedikit Tentang Kalahku
Pikirkan sejenak.
Pernah berfikir sedikit saja tentang rasa khawatir? Atau tentang apapun yang merasuki hati gelisah? Mungkin tak pernah, karena dia tau urusanmu lebih banyak daripada harus memikirkan hal yang tak penting, seperti itu.
"Mungkin iya, cemasku tak berarti apa-apa untukmu, bagaikan setetes air bagi beribu tanaman, ya aku tau. Tapi coba berfikir, cemasku datang ketika sang bintang muncul di atas atap yang terlampau tinggi tak bertepi. Sesekali ku lirik teknologi canggih yang biasa aku kenakan untuk berkomunikasi denganmu, ya handphone. Itu perantara aku dan kamu yang sering aku harapkan, yang sering aku andalkan, untuk dapat berbunyi setiap detik untuk menghubungiku di kala angin malam menerpa. Tapi saat ini beda, harapku hanya tinggal harap.
Begini kamu sesaat melupakanku, melupakan semua penat bersamaku, dengan manusia-manusia lain kamu membuat tawa lebar. Pernah berfikir? Tawa lebarmu disana tak membuat tawa lebar disini, tetapi memberikan beribu cemas. Mungkin cemasku ini tak pernah sesekali menggubrismu untuk sekedar membuatku tenang akan cemas ini, bahkan kamu anggap cemasku ini sebagai hal konyol yang aku lakukan untukmu, begitu?
Jujur, aku tak mengerti jalan pikiranmu. Sesaat sejalan denganku, sesaat lagi tidak sejalan denganku. Aku tidak egois, jadi aku akui, terkadang aku yang selalu bandel untuk tetap berdiri pada pendirianku yang salah, tapi lebih sering aku berdiri pada pendirianku yang benar. Dan entah kamu lebih sering mengikuti pendirian yang mana. Yang pasti aku hanya tidak mengerti jalan pikiranmu, jangan buat orang-orang bertanya akan hal itu, pikirkan sejenak.
Mungkin karena aku tidak berarti apa-apa untukmu? Sehingga untuk menggubris lelahku, bahkan kalahku saja kamu tidak bisa. Rasa sayang yang teramat dalam inilah yang membuat aku selalu mencemaskanmu. Coba belajar dewasa, belajar berfikir pakai otak bukan pakai emosi. Belajar panjang kedepan, bukan sesaat. Berfikirlah!
Rasa cemas itu akan tumbuh dari sini, dari organ yang bernama 'hati'. Disitulah cemas datang menghampiriku untuk mencemaskanmu. Aku percaya, cemasku saat ini timbul akibat rasa sayang yang ada untukmu, rasa kasih sayang yang penuh, dan rasa takut kehilanganmu yang aku cinta. Pernah berfikir seperti itu?
Yang aku mau mungkin hanya kamu bisa mengerti sedikit tentang perasaanku. Jangan selalu ingin menang dengan egomu sendiri tapi pikirkan sedikit tentang kalahku. Ingat, aku selalu memberikanmu kabar ketika aku sedang melukiskan tawa bersama manusia-manusia lain ataupun ketika duka menerpa diriku sekalipun, aku selalu berusaha. Tapi apa yang kamu balas?"
Percayalah, dia yang hanya ingin sempurna dimatamu tapi tak pernah sesekali kamu lihat. Coba berfikir sebentar, apa balasan yang kamu beri? Untuk dia wanita yang mencintaimu, apa? Dia hanya ingin satu hal yang tak rumit itu ialah 'kasih sayang yang tulus yang kamu beri dari organ yang kamu miliki, hati. Ya organ itu.'
Comments
Post a Comment