Rindu Ini
Anggap saja ini nostalgia, tidak lebih.
Aku ingat betul, awal pertama kamu datang. Mencoba mendekat, sekilas terbilang cepat. Namun berhasil, berhasil membuat aku jatuh cinta. Aku sempat heran, kita sebelumnya hanya sebatas teman. Namun akhirnya bisa melukiskan kenangan indah, walau akhirnya pahit terasa.
Kini, aku sedang duduk. Memandangi foto-foto, membaca-baca lagi obrolan yang masih tersusun rapih dan kenangan yang setidaknya masih terekam baik dalam otak ini.
Perkenalkan, aku ini kenangan. Kali ini aku hanya ingin bercerita sedikit. Aku rindu.
Dahulu kamu yang selalu berhasil membuat aku tersenyum manja, tertawa lebar bahkan menangis sejadi-jadinya. Kini aku rindu dibuat tersenyum dengan semua rayuanmu, rindu tertawa terbahak-bahak karena celotehanmu, bahkan rindu menangis semalaman akibat kecemburuan yang melanda karenamu. Aku rindu.
"Selamat pagi. Jangan lupa sarapan ya"
"Kalo ngantuk kamu tidur sekarang aja, jangan tungguin aku"
"Aku mau anter kamu"
"Kamu dimana? Pulangnya sama aku"
"Aku kangen. Besok main yuk"
"Kamu berhasil buat aku nyaman. Aku sayang kamu"
Ya, itu sebagiannya. Aku rindu kalimat-kalimat itu. Rindu orangnya juga. Tapi entah mengapa aku takut untuk berobsesi lebih 'tuk mendapatkan dan memilikimu lagi. Aku takut. Dan kali ini aku hanya rindu, ya rindu.
Kamu harus tau, otak ini begitu apik menyimpan kamu. Bahkan jika harus mengulang cerita dari awal, aku siap. Tapi aku pikir tidak untuk kali ini. Aku mengetahui bahwa sekarang yang aku miliki hanya angan. Aku tidak bisa menceritakannya sembarangan karena aku tahu aku bukan siapa-siapanya kamu lagi.
Jangan salahkan aku, rindu ini datang begitu saja. Tanpa tahu aku sedang dimana, bersama siapa. Rindu tanpa permisi menyelimuti pikiranku tanpa sedikit aku mengerti mengapa. Sekali lagi akan aku tegaskan bahwa aku hanya rindu. Jadi kamu tidak perlu khawatir.
"Kamu apa kabar?"
"Baik-baik ajakan?"
"Kapan kita bisa ketemu?"
"Jangan sering pulang malem ya"
"Cari temen yang bener"
"Jangan bandel!"
Kalimat yang aku ingin tanyakan dan ingin aku ungkapkan jauh-jauh hari. Dan ketahuilah itu hanya sebagiannya, masih banyak sebenarnya yang masih terpendam dan tidak mungkin aku tuangkan begitu saja disini.
Sekali lagi, aku rindu kamu dengan amat sangat. Rindu semua ocehanmu, rindu konyolnya kamu, bahkan emosi kamu yang dahulu aku benci pun aku rindu. Apalagi diperhatikan lebih oleh kamu. Iya 'tak apa, aku akui saja. Kamu dengar? Kamu baca? Baiklah.
Melalui tulisan ini mungkin setidaknya aku dapat mencurahkan teriakan hati yang sedang rindu, membuatnya bisa bernafas lega. Dan yang lebih aku inginkan ialah kamu dapat membacanya, ya mustahil, aku hanya berandai, semoga.
Kuucapkan salam rindu ini, semoga kamu bahagia.
Semoga tersampaikan, 'dia' yg juga mungkin merindu.
ReplyDeleteThank you:)
Delete